ternyata, lebih penting punya rasa nyaman dalam diri seseorang
daripada punya semuanya.
Sudah sekitar 7 bulan saya bisa berbangga diri disebut anak SMA
Awal-awal emang semangat, tapi terus menciut-ciut-ciut akhirnya kempes
Banyak hal yang ingin saya kejar, terutama akademis
doktrin kaku yang tertanam di benak saya adalah:
SMA cuma bentar, 3 tahun, abis itu kuliah
kalo SMA aja jeblok, mau ke mana neng?
Lampu merah udah penuh
namun makin ke sini, ternyata tambah rumit
bertahan di SMA, nggak semudah dan sesimpel itu
lirik kanan-lirik kiri, puas punya nilai bagus doang?
masih mencari arah, masih tersesat
masih cengo, ngeblank
otaknya skip banget nih lama-lama syntax error
ipa= ilmu pengetahuan akuntansi
ips= ilmu pengetahuan sains
jangan gebukin saya, itu lawakannya Elin lho
Wednesday, February 24, 2010
Tuesday, February 2, 2010
The Invention of Lying
What if the whole world can only tell the truth?

Yak film ini memang menggambarkan dunia tanpa kebohongan, semua orang bisa ngomong jujur apa adanya. Dan enggak ada kata "bohong" di dalam kamus mana pun.
Mark Bellison (diperankan oleh Ricky Gervais) adalah orang pertama yang bisa berbohong, kejadiannya saat dia mau ambil uang di bank untuk bayar sewa apartemen. Tadinya dia cuma punya 300 dollar tapi entah apa di otaknya membuat dia bilang bahwa ada 800 dollar di rekeningnya. Ajaibnya, si teller bank mengiyakan dan waktu dicek di komputer, dia bilang ada kesalahan teknis. Dapet deh itu 800 dollar buat bayar sewa.
Setelah itu di makin rajin bohong, but only the white lies. Kebohongan terbesarnya adalah, "After you die, you will go to the most wonderful place ever, where you can meet all whom you love and be young again" kepada ibunya yang udah sekarat. Si ibu percaya dan akhirnya dia meninggal dengan tenang.
Setelah itu, ternyata omongannya tentang afterlife itu tersebar sampai luas sebagai pelopor orang yang tahu tentang afterlife. Tentu saja dalam konteks ini nggak dikenal surga atau neraka.
Pada akhirnya si Mark Bellison ini jadi kaya dan hidupnya berubah, tapi yang gak berubah cuma satu yaitu lovelifenya.
Film ini happy ending kok, lumayan lucu dan nilai moralnya tinggi. The truth is not always good, but lies make it better. Itu yang saya tangkap dari film ini. Humornya lumayan karena, bayangin aja, semua orang gak bisa boong, ditanya apapun pasti jawabnya jujur. Ironis ya, saking banyak kebohongan dalam hidup kita, jujur itu jadi sesuatu yang cukup rare untuk jadi tontonan.

Yak film ini memang menggambarkan dunia tanpa kebohongan, semua orang bisa ngomong jujur apa adanya. Dan enggak ada kata "bohong" di dalam kamus mana pun.
Mark Bellison (diperankan oleh Ricky Gervais) adalah orang pertama yang bisa berbohong, kejadiannya saat dia mau ambil uang di bank untuk bayar sewa apartemen. Tadinya dia cuma punya 300 dollar tapi entah apa di otaknya membuat dia bilang bahwa ada 800 dollar di rekeningnya. Ajaibnya, si teller bank mengiyakan dan waktu dicek di komputer, dia bilang ada kesalahan teknis. Dapet deh itu 800 dollar buat bayar sewa.
Setelah itu di makin rajin bohong, but only the white lies. Kebohongan terbesarnya adalah, "After you die, you will go to the most wonderful place ever, where you can meet all whom you love and be young again" kepada ibunya yang udah sekarat. Si ibu percaya dan akhirnya dia meninggal dengan tenang.
Setelah itu, ternyata omongannya tentang afterlife itu tersebar sampai luas sebagai pelopor orang yang tahu tentang afterlife. Tentu saja dalam konteks ini nggak dikenal surga atau neraka.
Pada akhirnya si Mark Bellison ini jadi kaya dan hidupnya berubah, tapi yang gak berubah cuma satu yaitu lovelifenya.
Film ini happy ending kok, lumayan lucu dan nilai moralnya tinggi. The truth is not always good, but lies make it better. Itu yang saya tangkap dari film ini. Humornya lumayan karena, bayangin aja, semua orang gak bisa boong, ditanya apapun pasti jawabnya jujur. Ironis ya, saking banyak kebohongan dalam hidup kita, jujur itu jadi sesuatu yang cukup rare untuk jadi tontonan.
New Header
heeyy long time no blogging!
fyi, header di atas adalah bikinan seorang mahkluk kreatif berkacamata dan namanya di dunia maya adalah gluethegloom. Lucu kan ya namanya? emang kreatif tuh orang. buktinya buku geografinya dia aja udah bikin gua jatuh cinta setengah mati karena terlalu menghibur dan akhirnya sukses membuat gluethegloom jadi tumbal dimarahin tompel radar (ups curcol)
so, thankies gluethegloom!
fyi, header di atas adalah bikinan seorang mahkluk kreatif berkacamata dan namanya di dunia maya adalah gluethegloom. Lucu kan ya namanya? emang kreatif tuh orang. buktinya buku geografinya dia aja udah bikin gua jatuh cinta setengah mati karena terlalu menghibur dan akhirnya sukses membuat gluethegloom jadi tumbal dimarahin tompel radar (ups curcol)
so, thankies gluethegloom!
Monday, December 28, 2009
Tulisan Untuk Membunuh Waktu
Barusan saya nonton tv
Saya tengah liburan di suatu kota di Jawa Tengah berinisial S belakangnya O dengan huruf kedua O dan selanjutnya L, pasti pada gak tau deh (pentingkah?) Ketika sudah malam, di hotel saya nonton tv yang tadinya menayangkan Warkop DKI (gak usah ngecakin deh, daripada sinetron?) lalu diganti channelnya ke tayangan film asing bertema perang salib.
Bukan perang salib yang mau saya bahas-meskipun saya tahu itu menarik-tp breaking news yang memotong tayangan film itu.
"Sekelompok warga bentrok dengan supporter Persita di Jalan Tol Jakarta-Merak."
Dalam liputan yang singkat itu dipertontonkan adegan bocah remaja usia belasan yang jumlahnya mewakili orang sekampung, dilempari-atau melempari, tidak jelas- dengan kelompok remaja lainnya yang berlaga dalam nuansa kostum ungu.
Adegan berikutnya pun tidak kalah ngenesnya, ribuan kendaraan mengantri panjang, sampai puluhan km selama 3 jam.
Yaampun kalo otak cetek saya ini boleh mikir, kenapa sih sampai segitunya? Benarkah rasa cinta yang berlebihan terhadap sesuatu akan menimbulkan kekacauan yang sebegitu lebaynya? Mungkin mereka hanya tidak tahu apa yang mereka lakukan, mungkin. Yang mereka tahu hanyalah, mereka sedang membela apa yang mereka yakini, dan mereka membenarkan itu. Atas nama kebebasan.
Saya pikir kenyataan yang menyedihkan ini tidak kurang dari ceteknya pendidikan moral. Memang, remaja konon katanya (sakitnya karna diguna-gunaaa, dengan segelas air putih.. eitt out of topic lg) masih disetir oleh gejolak emosi. Salahkan saja masa pubertas, salahkan saja emosi, salahkan saja "saya tadi khilaf". Kan enak ada kata "maaf" dan "khilaf". Salah dikit, tinggal bilang "sori", salah banyak, tinggal bilang "maaf, gak maksud", nyekek orang tinggal bilang "saya gelap mata, saya tadi khilaf"
Jadi, singkatnya mari kita jadikan "gabut" sebagai kambing hitam. Lho kenapa gabut? Ya, gabut akronim dari gak butuh atau gaji buta. Intinya nganggur, kurang kerjaan.
Kemalasan, yang diraja-rajakan oleh kaum muda sekarang, ternyata bisa jadi kutil yang berbahaya. Karena kurang kerjaan atau malas, jadi nongkrong-nongkrong, ngobrol ngalor ngidul kalo kelamaan berpotensi menciptakan budaya spik doang- no action talk only. Dari nongkrong jadi ngopi, lama-lama ngerokok, bir juga diembat. mabok? Urusan belakangan. Tidak ada sesuatu yang menambah nilai etika, moral, nurani, bahkan intelektual. Tidak ada ruang di otak dan hati kita untuk itu semua dan akhirnya emosi yang menguasai. Slek dikit maunya bener terus, maunya menang, maunya didengerin tapi tidak menciptakan solusi.
Terus emangnya harus apa? Masa belajar?
Yee sempit amat sih dunia lu. Gua aja yang cetek begini bisa mikir dikit. Belajar kan fleksibel. Belajar dgn buka buku dan nulis-nulis mah udah dr jaman kompeni. Apa yang harus kita lakukan adalah, buka mata, hati, telinga.
Sensitiflah, bukan terhadap diri sendiri tp terhadap perasaan orang lain dan lingkungan sekitar. Tetap sadar dan get real. Dunia ini bukan khayalan, khayalan hanya stimulan supaya dunia lebih bergairah. Sadarlah apa yang akan dilakukan. Think twice, think before act, dan banyak slogan lainnya.
Terakhir, barusan saya lihat iklan ketik reg spasi. Benar-benar iklan yang luar biasa bodoh, lebih bodoh lagi yang mengikutinya.
Oiya akhir2 ini posting saya banyak mengkritik karena pengaruh dari seseorang yang rajin mengirimkan notes sejenis dari fb, yang benar2 menginspirasi. Saya yakin orang itu akan membaca posting ini. Thankyou!
Saya tengah liburan di suatu kota di Jawa Tengah berinisial S belakangnya O dengan huruf kedua O dan selanjutnya L, pasti pada gak tau deh (pentingkah?) Ketika sudah malam, di hotel saya nonton tv yang tadinya menayangkan Warkop DKI (gak usah ngecakin deh, daripada sinetron?) lalu diganti channelnya ke tayangan film asing bertema perang salib.
Bukan perang salib yang mau saya bahas-meskipun saya tahu itu menarik-tp breaking news yang memotong tayangan film itu.
"Sekelompok warga bentrok dengan supporter Persita di Jalan Tol Jakarta-Merak."
Dalam liputan yang singkat itu dipertontonkan adegan bocah remaja usia belasan yang jumlahnya mewakili orang sekampung, dilempari-atau melempari, tidak jelas- dengan kelompok remaja lainnya yang berlaga dalam nuansa kostum ungu.
Adegan berikutnya pun tidak kalah ngenesnya, ribuan kendaraan mengantri panjang, sampai puluhan km selama 3 jam.
Yaampun kalo otak cetek saya ini boleh mikir, kenapa sih sampai segitunya? Benarkah rasa cinta yang berlebihan terhadap sesuatu akan menimbulkan kekacauan yang sebegitu lebaynya? Mungkin mereka hanya tidak tahu apa yang mereka lakukan, mungkin. Yang mereka tahu hanyalah, mereka sedang membela apa yang mereka yakini, dan mereka membenarkan itu. Atas nama kebebasan.
Saya pikir kenyataan yang menyedihkan ini tidak kurang dari ceteknya pendidikan moral. Memang, remaja konon katanya (sakitnya karna diguna-gunaaa, dengan segelas air putih.. eitt out of topic lg) masih disetir oleh gejolak emosi. Salahkan saja masa pubertas, salahkan saja emosi, salahkan saja "saya tadi khilaf". Kan enak ada kata "maaf" dan "khilaf". Salah dikit, tinggal bilang "sori", salah banyak, tinggal bilang "maaf, gak maksud", nyekek orang tinggal bilang "saya gelap mata, saya tadi khilaf"
Jadi, singkatnya mari kita jadikan "gabut" sebagai kambing hitam. Lho kenapa gabut? Ya, gabut akronim dari gak butuh atau gaji buta. Intinya nganggur, kurang kerjaan.
Kemalasan, yang diraja-rajakan oleh kaum muda sekarang, ternyata bisa jadi kutil yang berbahaya. Karena kurang kerjaan atau malas, jadi nongkrong-nongkrong, ngobrol ngalor ngidul kalo kelamaan berpotensi menciptakan budaya spik doang- no action talk only. Dari nongkrong jadi ngopi, lama-lama ngerokok, bir juga diembat. mabok? Urusan belakangan. Tidak ada sesuatu yang menambah nilai etika, moral, nurani, bahkan intelektual. Tidak ada ruang di otak dan hati kita untuk itu semua dan akhirnya emosi yang menguasai. Slek dikit maunya bener terus, maunya menang, maunya didengerin tapi tidak menciptakan solusi.
Terus emangnya harus apa? Masa belajar?
Yee sempit amat sih dunia lu. Gua aja yang cetek begini bisa mikir dikit. Belajar kan fleksibel. Belajar dgn buka buku dan nulis-nulis mah udah dr jaman kompeni. Apa yang harus kita lakukan adalah, buka mata, hati, telinga.
Sensitiflah, bukan terhadap diri sendiri tp terhadap perasaan orang lain dan lingkungan sekitar. Tetap sadar dan get real. Dunia ini bukan khayalan, khayalan hanya stimulan supaya dunia lebih bergairah. Sadarlah apa yang akan dilakukan. Think twice, think before act, dan banyak slogan lainnya.
Terakhir, barusan saya lihat iklan ketik reg spasi. Benar-benar iklan yang luar biasa bodoh, lebih bodoh lagi yang mengikutinya.
Oiya akhir2 ini posting saya banyak mengkritik karena pengaruh dari seseorang yang rajin mengirimkan notes sejenis dari fb, yang benar2 menginspirasi. Saya yakin orang itu akan membaca posting ini. Thankyou!
Monday, December 21, 2009
Mahameru dan Jayawijaya (sekilas)
Sunday, December 20, 2009
Social Networking Sekarang
Hooy saya baru bikin twitter lho
Bangga sih pertamanya, saya juga heran kenapa saya jadi pengen ngeksis di dunia maya gini padahal sebelomnya amit-amit blog aja sampe gak keurus gini.
Alasan utamanya adalah:
1. Dibujuk oleh 2 buntelan cantik yang bisa ngomong dan satu sekolah sama saya, Angela Marvella Perwirasari Kadiaman a.k.a Ella dan Edlyn Vania a.k.a Acong, enggak deng Elin maksudnya. Jadi intinya duo El ini membujuk saya bikin twitter biar lebih gampang tukar informasi dan biar saya lebih up to date tiap harinya
2. Karena saya penasaran aja twitter kayak apa
3. Mencari time killer baru selain tidur-tiduran dan bengong di wc
Dan ta-daah saya udah dibikinin oleh buntelan cantik ke-2 yaitu Elindseylohan. Seminggu pertama, seru sih karena berasa ngobrol rame-rame dan bisa bercandaan. Seminggu kedua, ugh isinya curcolan orang semua. Jadi males.
Saya jadi rajin update karena hp blekberak yang menggantikan nokia yang tewas di lobang wc :'( rest in peace, dear.
Lama-lama ter-annoyed juga dan jadi menghapus aplikasi twitter instan di blekberak saya. Gila males banget ngeliat orang update status cuma buat "mau potong poni gak ya?" atau "lagi bosen", so unimportant dude. Maaf ya yang tersinggung, saya bukannya benci tapi seandainya saya boleh bilang, tolong, ini public site.
Ternyata setelah beberapa lama banyak juga yang setuju kalau update yang terlalu sering dan gak penting itu menyebalkan, salah seorang pengguna twitter yang saya follow menampang status "Please dont make too much disturbition by updating unimportant status too often!" bravo, bung!
Terus lagi, update status fb juga kadang-kadang bikin gatel mata. Ngata-ngatain orang di status dengan tujuan supaya si objek status membaca, padahal dia tahu kalo statusnya itu bakal terselip di antara ratusan, bahkan ribuan update status lainnya. Kemungkinan untuk dilihat si "yang dituju" adalah 1000:1, itupun kalau dia membuka fb serajin buang air kecil. Udah gitu, yang paling bikin geli lagi adalah, si penulis status me- like this sendiri statusnya, pede jaya, bu!
Saya juga risih dengan ajang basa-basi atau kenalan di fb atau twitter. Alasan ini yang membuat malas meng-confirm friend request. Saya tipe orang yang lumayan old-fashioned, tidak percaya dengan kenalan di dunia maya, terlalu beresiko.
Terus kenapa saya masih lari-lari di ajang twitteran atau facebookan? Yaa, once you get in, you'll never get out. Bisa saja sih saya tutup semua account saya, tapi DEMI FORMALITAS dan setidaknya tidak menjadi kaum yang awam banget dalam social networking dalam internet, saya pertahankan account saya. Buat asik-asikan aja kata lainnya. Tidak lebih. Saya nulis ini pun sebenarnya saya juga pernah melakukan itu. Fenomena curcol dalam social networking bukan hal yang tidak pernah saya rasakan. Memang itu sebenarnya fungsi sampingan dari social networking tetapi alangkah baiknya apabila tidak mengganggu orang lain (yang sok tahu dan menyebalkan, tidak lupa katronya- seperti saya)
Bangga sih pertamanya, saya juga heran kenapa saya jadi pengen ngeksis di dunia maya gini padahal sebelomnya amit-amit blog aja sampe gak keurus gini.
Alasan utamanya adalah:
1. Dibujuk oleh 2 buntelan cantik yang bisa ngomong dan satu sekolah sama saya, Angela Marvella Perwirasari Kadiaman a.k.a Ella dan Edlyn Vania a.k.a Acong, enggak deng Elin maksudnya. Jadi intinya duo El ini membujuk saya bikin twitter biar lebih gampang tukar informasi dan biar saya lebih up to date tiap harinya
2. Karena saya penasaran aja twitter kayak apa
3. Mencari time killer baru selain tidur-tiduran dan bengong di wc
Dan ta-daah saya udah dibikinin oleh buntelan cantik ke-2 yaitu Elindseylohan. Seminggu pertama, seru sih karena berasa ngobrol rame-rame dan bisa bercandaan. Seminggu kedua, ugh isinya curcolan orang semua. Jadi males.
Saya jadi rajin update karena hp blekberak yang menggantikan nokia yang tewas di lobang wc :'( rest in peace, dear.
Lama-lama ter-annoyed juga dan jadi menghapus aplikasi twitter instan di blekberak saya. Gila males banget ngeliat orang update status cuma buat "mau potong poni gak ya?" atau "lagi bosen", so unimportant dude. Maaf ya yang tersinggung, saya bukannya benci tapi seandainya saya boleh bilang, tolong, ini public site.
Ternyata setelah beberapa lama banyak juga yang setuju kalau update yang terlalu sering dan gak penting itu menyebalkan, salah seorang pengguna twitter yang saya follow menampang status "Please dont make too much disturbition by updating unimportant status too often!" bravo, bung!
Terus lagi, update status fb juga kadang-kadang bikin gatel mata. Ngata-ngatain orang di status dengan tujuan supaya si objek status membaca, padahal dia tahu kalo statusnya itu bakal terselip di antara ratusan, bahkan ribuan update status lainnya. Kemungkinan untuk dilihat si "yang dituju" adalah 1000:1, itupun kalau dia membuka fb serajin buang air kecil. Udah gitu, yang paling bikin geli lagi adalah, si penulis status me- like this sendiri statusnya, pede jaya, bu!
Saya juga risih dengan ajang basa-basi atau kenalan di fb atau twitter. Alasan ini yang membuat malas meng-confirm friend request. Saya tipe orang yang lumayan old-fashioned, tidak percaya dengan kenalan di dunia maya, terlalu beresiko.
Terus kenapa saya masih lari-lari di ajang twitteran atau facebookan? Yaa, once you get in, you'll never get out. Bisa saja sih saya tutup semua account saya, tapi DEMI FORMALITAS dan setidaknya tidak menjadi kaum yang awam banget dalam social networking dalam internet, saya pertahankan account saya. Buat asik-asikan aja kata lainnya. Tidak lebih. Saya nulis ini pun sebenarnya saya juga pernah melakukan itu. Fenomena curcol dalam social networking bukan hal yang tidak pernah saya rasakan. Memang itu sebenarnya fungsi sampingan dari social networking tetapi alangkah baiknya apabila tidak mengganggu orang lain (yang sok tahu dan menyebalkan, tidak lupa katronya- seperti saya)
Sunday, November 29, 2009
The Strokes - What Ever Happened? lyrics
I want to be forgotten,
and I don't want to be reminded.
You say "please don't make this harder."
No, I won't yet.
I wanna be beside her.
She wanna be admired.
You say "please don't make this harder."
No, I won't yet.
Oh dear, is it really all true?
Did they offend us and they want it to sound new?
Top ten ideas for countdown shows...
Whose culture is this and does anybody know?
I wait and tell myself "life ain't chess,"
But no one comes in and yes, you're alone...
You don't miss me, I know.
Oh Tennessee, what did you write?
I come together in the middle of the night.
Oh that's an ending that I can't write, 'cause
I've got you to let me down.
I want to be forgotten,
and I don't want to be reminded.
You say "please don't make this harder."
No, I won't yet.
I want to be beside her.
She wanna be admired.
You say "please don't make this harder."
No, I won't yet...
From the album "Miscellaneous"
copied from www.azlyrics.com
and I don't want to be reminded.
You say "please don't make this harder."
No, I won't yet.
I wanna be beside her.
She wanna be admired.
You say "please don't make this harder."
No, I won't yet.
Oh dear, is it really all true?
Did they offend us and they want it to sound new?
Top ten ideas for countdown shows...
Whose culture is this and does anybody know?
I wait and tell myself "life ain't chess,"
But no one comes in and yes, you're alone...
You don't miss me, I know.
Oh Tennessee, what did you write?
I come together in the middle of the night.
Oh that's an ending that I can't write, 'cause
I've got you to let me down.
I want to be forgotten,
and I don't want to be reminded.
You say "please don't make this harder."
No, I won't yet.
I want to be beside her.
She wanna be admired.
You say "please don't make this harder."
No, I won't yet...
From the album "Miscellaneous"
copied from www.azlyrics.com
Subscribe to:
Posts (Atom)

